Senin, 11 Juni 2012

Bin Ladin, Israel dan Terorisme (Opini)

Bin Ladin, Israel dan Terorisme


Seandainya sebuah survei interim dilakukan tentang kondisi dunia, akankah ia menunjukkan bahwa dunia menjadi lebih aman setelah tragedi 11/9? Jawabannya mungkin dapat ditemukan dalam beberapa baris kata dari Thomas Hardy ini: “Beberapa aspek berada dalam diri kita, dan siapa yang tampak seperti raja dialah Sang Raja”.

Jawabannya juga akan tergantung pada siapa yang menjadi pemburu dan siapa yang jadi buruan. Perang melawan teror sudah menang, begitu kita diberitahu. Pada waktu yang sama jangkauan Alqaidah semakin jauh dan Eropa merasa terancam. Para menteri luar negeri NATO pun sepakat untuk mengambil langkah tegas guna memperkuat pertempurannya melawan terorisme. Dalam sebuah statemen yang dimaksudkan untuk mengungkapkan kesatuan dan membulatkan tekad dalam mengambil langkah-langkah penting guna “memberikan dimensi transatlantik esensial sebagai respons pada terorisme,” yang dalam menghadapinya tampak dibayangi ketakutan dan horor.
Sebuah komisi sudah dibentuk di Amerika Serikat (AS) yang sedang menyelidiki serangan 11/9 dan apakah berbagai langkah dapat diambil untuk menghalangi tragedi itu terjadi. Tahun ini merupakan tahun pemilu di AS dan kesaksian berbagai pejabat terkait telah menjadi permainan yang saling memojokkan antara mereka yang berkuasa pada masa Clinton dan mereka yang sedang berkuasa saat ini.

Pertama, yang paling menggemparkan adalah tuduhan Richard Clarke yang menjadi pejabat ahli anti-terorisme Gedung Putih dan menulis buku berjudul Against All Enemies. Buku ini secara luas berseberangan dengan segala statemen yang pernah diucapkan pemerintahan Bush, sebuah tuduhan paling serius yang dilakukan orang dalam sendiri bahwa strategi kontraterorisme telah dipetieskan oleh pemerintahan Bush agar supaya dapat menginvasi Irak. Secara gamblang dia menyatakan bahwa perang Irak telah lama direncanakan.

Semua tuduhan itu tampak kurang relevan. Penyelidikan pasca-kejadian mungkin berguna bagi ilmu medis tetapi tak akan banyak gunanya bagi korp. Tidak ada seorang pun yang merasa heran lagi apa yang terjadi dengan WMD (Weapons of Mass Destruction senjata pemusnah massal). WMD tidak pernah ditemukan. Para antropolog yang mengadakan penggalian di Irak mungkin akan menemukannya seratus tahun lagi tetapi mereka akan memberikan semacam “rasa puas” yang dibutuhkan oleh kalangan yang haus perang.

Pada saat peristiwa Pearl Harbour, Franklin Delano Roosevelt berpidato di depan rakyat AS menyatakan bahwa “tidak ada yang kita takutkan kecuali rasa takut itu sendiri.” Sekarang rasa takut itu digunakan untuk menggiring rakyat dan para pejabat AS yang haus perang dapat mengatakan bahwa mereka tidak hanya memiliki keperkasaan militer tetapi juga ketakutan dalam waktu yang sama.

Richard Clarke memberikan pengakuan dengan nada permintaan maaf, yang lebih mirip dengan doa pertobatan: “Pemerintah telah mengecewakan kalian. Mereka yang dipercaya untuk melindungi kalian telah mengecewakan kalian. Dan saya sendiri telah mengecewakan kalian,” ujarnya. Tidak ada pengakuan semacam itu keluar dari Bush dan Blair, apalagi rasa bersalah yang mendalam. Mereka terus bergerak maju dari senjata pemusnah massal ke perubahan rezim ke demokrasi.

Irak telah ditentramkan dan dimerdekakan. Beberapa waktu lalu terjadi pembunuhan mengerikan atas empat pengawal pribadi kontraktor AS oleh massa yang marah di Fallujah. Rekaman video pembunuhan dan penyiksaan atas tubuh-tubuh mereka itu dianggap terlalu mengerikan untuk dipertontonkan di televisi. Ini bukanlah kemarahan biasa, ini murni timbul dari rasa benci yang berasal dari dalam rasa putus-asa, dan kekecewaan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Seorang juru bicara militer AS hanya bisa mengatakan bahwa segalanya akan tampak buruk sebelum menjadi lebih baik. Terdengar sebuah gaung dari Vietnam. Di sana juga dulu dikatakan bahwa semuanya akan berjalan dengan baik. Kita diberitahu bahwa membandingkan Irak dengan Vietnam adalah analogi palsu dan tidak pas. Pernahkan ada perang yang berakhir dengan happy ending? Perang Dunia I menciptakan Hitler, Perang Dunia II memproduksi Perang Dingin dan runtuhnya Uni Soviet dengan bantuan Usamah bin Ladin dan kalangan Mujahidinnya menciptakan Alqaidah.

George Crile dalam bukunya My Enemy’s Enemy menuturkan kisah operasi rahasia terbesar sepanjang sejarah. CIA mempersenjatai kelompok Mujahidin. Dan tak lama kemudian keanehan pun terjadi: Mujahidin yang sama berubah menjadi militan dan diburu di seluruh dunia sebagai kelompok teroris. Mengapa komisi 11/9 tidak menginvestigasi bagaimana dan mengapa semua itu bisa terjadi? Siapa yang mengubah Usamah bin Ladin dari seorang kawan menjadi lawan abadi?

Hal yang sebaliknya terjadi dalam kasus Kolonel Khaddafi. Ronald Reagan menjulukinya sebagai seekor “anjing gila.” Pesawat pengebom AS tinggal landas dari pangkalan yang diberikan oleh Margaret Thatcher Inggris dan mengebom rumah Khaddafi untuk membunuhnya. Dia selamat akan tetapi tidak demikian dengan putrinya.

Khaddafi bagaikan seorang pendosa yang telah melihat cahaya dan dia telah menyerahkan proyek WMD-nya, saat ini tidak ada lagi bekas-bekas WMD yang ditemukan, dan dia pun mendapat anugerah kunjungan resmi dari Tony Blair sendiri. Khaddafi telah mengecam terorisme dan saat ini mendapat rapor baik dari coalition of the willing serta menjadi anggota terhormat dalam perang melawan terorisme. Mengapa tekanan dan diplomasi yang sama tidak digunakan pada Saddam Hussein?

Langkah mundur kontraterorisme Perang melawan teror telah mengalami kemunduran sangat besar yang disebabkan oleh veto AS atas resolusi DK PBB yang mengecam pembunuhan terencana atas Syekh Ahmed Yassin, pendiri Hamas. Ariel Sharon yang merasa mendapat dukungan saat ini telah melirik Yasser Arafat sebagai target besar berikutnya. Adakah perang melawan teror hanyalah alasan belaka untuk memuluskan ambisi Israel?

Ariel Sharon menjadi kendala utama perdamaian di Timur Tengah dan apabila dia terus dimanja AS, maka prospek perdamaian di kawasan ini hanyalah ilusi belaka. Hanya AS yang dapat membuat Israel untuk berpikir waras. Kalangan kawan dekat Amerika, termasuk Tony Blair, hendaknya dapat meyakinkan AS bahwa perlindungannya yang membuta atas Israel merupakan ancaman yang sama berbahayanya dengan Alqaidah.

Teroris tidak akan musnah. Lawan akan semakin kuat dan dunia tidak akan bertambah aman. Setiap kali tank-tank Israel bergerak, teroris- teroris baru akan lahir. Kita tidak perlu menjadi ahli strategi untuk mengetahui hal semacam ini. Masalahnya kapan AS akan berhenti bersikap berpura-pura tidak tahu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar